Tuesday, October 25, 2011

HAKEKAT MASYARAKAT

A. PENGERTIAN MASYARAKAT DAN STRUKTUR SOSIAL


Masyarakat merupakan sekumpulan manusia-manusia yang berkumpul. Pada kehidupan masyarakat terjadi  proses kehidupan sosial, proses hubungan dan interaksi. Jadi, masyarakat dapat diartikan sebagai tempat terjadinya interaksi warga masyarakat itu. Untuk mengerti bentuk dan sifat masyarakat,  ada ilmu masyarakat (sosiologi) agar lebih baik apabila ia mengenal “masyarakat” yang  menjadi bagian daripadanya, karena setiap pribadi tidak saja menjadi warga masyarakat secara pasif.
Sekarang semua udah berubah. Bukan lagi jamannya berpangku tangan dan hidup bermiskinkan ilmu. Kini, hidup tanpa ilmu dan pendidikan, ibarat hidup dalam kegelapan. Kenapa? Karena seiring majunya teknologi dan ilmu pengetahuan yang mengharuskan kita terus mengejar ketertinggalan mengimbangi Negara-negara lain di luar sana.
            Perubahan itu pun kian mengubah kehidupan sosial  umat manusia. Hal itulah yang menimbulkan rasa solidaritas yang tinggi terhadap sesame manusia. Selain itu, pengaruh globalisasi juga berperan aktif dalam majunya kehidupan sosial masyarakat. Facebook, twitter, blog, friendster dan jejaring-jejaring sosial lainnya juga mengambil andil dalam mempereerat jalinan anta bangsa antar Negara, seperti tiada batas rasanya.
Prof. Robert W. Richey dalam bukunya : “Planning for Teaching an Introduction to Education” membuat batasan masyarakat. Istilah masyarakat diartikan sebagai suatu kelompok manusia yang hidup bersama di suatu wilayah dengan  pemikiran dan tindakan  yang relatif. Berdasarkan pengertian ini, maka pengertian masyarakat (relatif) luas wilayahnya, dan meliputi (relatif) banyak anggota atau warganya. Oleh karena jumlahnya yang relatif besar, akan terjadi pula “masyarakat” di dalam masyarakat tersebut.
Ada bermacam-macam faktor yang menyebabkan terbentuknya “masyarakat” dimaksud. Terjadilah pembedaan-pembedaan yang dikenal dengan istilah “masyarakat kota”, “masyarakat desa”, “masyarakat pendalaman”, ada pula “masyarakat atas”, “masyarakat bawah”, dan sebagainya.
Dengan pembedaan seperti ini, secara implisit dapat dimengerti apa dasar daripada penamaan atau penggolongan itu.
Kota besar misalnya, yang warganya jauh lebih banyak jumlahnya daripada di desa, antar warga masyarakat dan lebih banyak variasinya. Dengan kata lain, disana lebih heterogen. Kenyataan menunjukkan bahwa di kota-kota besar hidup manusia dari segala tingkat.
Dari pejabat-pejabat tinggi negara, pengusaha-pengusaha besar, kaum cerdik pandai, sampai buruh-buruh kecil. Jarak sosial diantara mereka sedemikian rupa, sehingga terbentuklah apa yang dikenal sebagai kelas sosial. Secara umum kelas sosial di dalam masyarakat ini terbagi atas : kelas atas (upper class), kelas menengah (middle class) dan kelas bawah (lower class).

B. Pemahaman Psikologi Masyarakat Indonesia


Masyarakat Indonesia yang majemuk terdiri dari berbagai budaya,  karena adanya kegiatan dan pranata khusus. Perbedaan ini justru berfungsi  mempertahankan dasar identitas diri dan integrasi sosial masyarakat tersebut.  Pluralisme masyarakat, dalam tatanan sosial,  agama dan suku bangsa, telah ada sejak nenek moyang, kebhinekaan budaya yang dapat hidup berdampingan, merupakan kekayaan dalam khasanah budaya Nasional, bila identitas budaya dapat bermakna dan  dihormati, bukan untuk kebanggaan dan sifat egoisme kelompok, apalagi diwarnai kepentingan politik.
Permasalahan silang budaya dapat terjembatani  dengan membangun kehidupan multi kultural yang sehat ; dilakukan dengan  meningkatkan toleransi dan apresiasi antarbudaya. Yang dapat diawali dengan pengenalan ciri khas budaya tertentu,  terutama psikologi  masyarakat yaitu pemahaman pola perilaku masyarakatnya. Juga peran media komunikasi, untuk melakukan sensor secara substantif dan distributif, sehingga dapat menampilkan informasi apresiatif terhadap budaya masyarakat lain.
Pendidikan sebagai proses humanisasi menekankan pembentukan makhluk sosial yang mempunyai otonomi moral dan  sensivitas /kedaulatan  budaya, yaitu manusia yang bisa mengelola konflik, menghargai kemajemukan, dan permasalahan silang budaya. Toleransi budaya di lembaga pendidikan dapat diupayakan lewat pergaulan di sekolah dan muatan bidang studi,  transformasi budaya harus dipandu secara pelan-pelan, bukan merupakan revolusi yang dipaksakan.

C. Masyarakat modern dan Pendidikan


Pendidikan merupakan suatu proses, dimana proses tersebut dapat berlangsung dimana dan kapan saja, tidak hanya dalam lingkungan yang formal seperti di sekolah atau kampus karena pendidikan tidak hanya sekolah atau kuliah. Perkembangan seseorang mulai dari kecil, remaja sampai dewasa, di sekolah, di masyarakat dan di rumah merupakan proses pendidikan yang menyeluruh.
Setiap individu dalam masyarakat merupakan potensi yang harus dikembangkan untuk mendukung dan melancarkan kegiatan pembangunan dalam masyarakat tersebut. Manusia sebagai individu, sebagaimana kodratnya memiliki sifat baik maupun buruk. Sifat-sifat yang kurang baik inilah perlu dibina dan dirubah sehingga melahirkan sifat-sifat yang baik lalu dibina dan dikembangkan. Proses perubahan dan pembinaan tersebut disebut dengan pendidikan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakibatkan munculnya perubahan dalam masyarakat. Semakin maju perkembangan dalam masyarakat maka semakin banyak pula keperluan yang harus dipenuhi.
Masyarakat modern dalam lingkungan kebudayan ditandai dengan perkembangan kemajuan ilmu dan teknologi untuk menghadapi keadaan sekitarnya. Menurut R. Tilaar (1979 : 17), ada beberapa indicator masyarakat modern dan disimpulkan oleh penulis (kelompok) sebagai berikut :

  1. Saling mempengaruhi antara manusia dan lingkungan dengan tujuan menciptakan perubahan secara timbal balik
  2. Usaha untuk mengeksplorasi lingkungan dalam rangka  untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ditimbulkan dari lingkungan itu sendiri.
  3. Dorongan rasa ingin tahu dan ingin mengatasi tantangan-tantangan menyebabkan manusia ingin mengusasi lingkungan
  4. Berpikir lebih objektif dan rasional
  5. Selalu berusaha untuk memahami semua gejala yang dihadapi dan bagaimana mengorganisasikannya sehingga kehidupannya lebih baik

Dalam masyarakat modern segala sesuatu diusahakan atau dikerjakan dengan sungguh-sungguh serta rasional sehingga menyebabkan selalu timbul pertanyaan dalam masyarakat apakah kegunaan sesuatu bagi usaha menguasai lingkungan sekitarnya. Akibat dari kehidupan tersebut, maka akan timbul sikap dalam masyarakat modern, diantaranya :

  1. Terlalu percaya dengan peralatan dan teknik yang berjalan secara mekanis sebagai satu hasil pemikiran manusia (Ilmu pengetahuan). Dalam hal ini masyarakat tergolong dalam paham positivisme
  2. Berbuat dan bertindak sesuai dengan rencana yang terperinci sehingga tidak jarang manusia dikendalikan oleh rencana yang disusunnya.
  3. Timbul rasa kehilangan orientasi dan jati diri yang dapat melemahkan kehidupan bathin dan keagamaan.

Tanpa disadari masyarakat modern semakin tergantung pada alat dan teknologi yang diciptakan untuk menguasai dunia sekitarnya. Tidak jarang mereka kehilangan identitas karena sudah dikuasai oleh mekanisme yang mereka ciptakan sehingga mereka hidup tanpa jiwa dan tanpa kekuasaan.


 Oleh :  Irmala Sari Situmorang, Milda Sari Hasibuan, Ningsih Saragih, Siti Fatimah Fitria, Suratno
(Kel III) 


 

HAKEKAT PESERTA DIDIK


A. Pengertian Peserta Didik 

Peserta didik adalah setiap manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.Pendidikan merupakan bantuan bimbingan yang diberikan pendidik terhadap peserta didik menuju kedewasaannya. Sejauh dan sebesar apapun bantuan itu diberikan sangat berpengaruh oleh pandangan pendidik terhadap kemungkinan peserta didik utuk di didik. Sesuai dengan fitrahnya manusia adalah makhluk berbudaya, yang mana manusia dilahirkan dalam keadaan yang tidak mengetahui apa-apa dan ia mempunyai kesiapan untuk menjadi baik atau buruk. 

B. Hakekat Peserta Didik


Peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing, mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya.
Didalam pandangan yang lebih modern anak didik tidak hanya dianggap sebagai objek atau sasaran pendidikan, melainkan juga mereka harus diperlukan sebagai subjek pendidikan, diantaranya adalah dengan cara melibatkan peserta didik dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan pengertian ini, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.
Dasar-dasar kebutuhan anak untuk memperoleh pendidikan, secara kodrati anak membutuhkan dari orang tuanya. Dasar-dasar kpdrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak dalam kehidupannya, dalam hal ini keharusan untuk mendapatkan pendidikan itu jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan, antara lain :


1). Aspek Pedagogis

Dalam aspek ini para pendidik mendorang manusia sebagai animal educandum, makhluk yang memerlukan pendidikan. Dalam kenyataannya manusia dapat dikategorikan sebagai animal, artinya binatang yang dapat dididik, sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik, melainkan hanya dilatih secara dresser. Adapun manusia dengan potensi yang dimilikinya dapat dididik dan dikembangkan kearah yang diciptakan.

2). Aspek Sosiologi dan Kultural

Menurut ahli sosiologi, pada perinsipnya manusia adalah moscrus, yaitu makhlik yang berwatak dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.

3). Aspek Tauhid

Aspek tauhid ini adalah aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang berketuhanan, menurut para ahli disebut homodivinous (makhluk yang percaya adanya tuhan) atau disebut juga homoriligius (makhluk yang beragama).
Ada beberapa pandangan mengenai Hakikat Peserta Didik Sebagai Manusia yaitu:
  1.  Pandangan Psikoanalitik : Beranggapan bahwa manusia pada hakiktanya digerakkan oleh dorongan-dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instingtif.
  2. Pandangan Humanistik  : Berpendapat bahwa manusia memiliki dorongan untuk mengarahkan dirinya ketujuan yang positif. Oleh karenanya dikatakan bahwa manusia itu selalu berkembang dan berubah untuk menjadi pribadi yang lebih maju dan sempurna
  3. Pandangan Martin Buber  : Berpendapat bahwa hakikat manusia tidak dapat dikatakan ini atau itu. Manusia merupakan suatu keberadaan yang berpotensi, namun dihadapkan pada kesemestaan alam, sehingga manusia itu terbatas.
  4. Pandangan Behavioristik : Pada dasarnya menganggap bahwa manusia spenuhnya adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor yang datang dari luar.

C. Defenisi Pendidikan


Pendidikan adalah usaha membantu menyadarkan anak tentang potensi yang ada pada,membantu mengem,bangkan potensi seoptimal mungkin,memberikan pengetahuan dan keterampilan,memberikan latihan-latihan,memotivasi untuk terlibat dalam pengalaman-pengalaman yang berguna,mengusahakan lingkungan yang serasi dan kondusif  untuk belajar,mengarahkan bila ada penyimpangan,mengolah mata pelajaran sehingga peserta didik bernafsu untuk menguasainya,mengusahakan alat-alat,meningkatkan intensitas proses pembelajaran. Pendidikan menyediakan alternatif,pilihan,begitu peserta didik  telah memutuskan untuk memilih satu alternatif,pendidikan siap membantu,siap merangsang dan menjauhkan hal-hal yang dapat mengganggu jalannya proses pendidikan.Aktivitas  dimaksudkan untuk membantu peserta didik mengembangkan dirinya sendiri sesuai dengan kemampuan atau potensi yang dimiliki. Sasaran aktivitas yang dilakukan adalah peserta didik yang berarti bahwa peserta didiklah yang menentukan bentuk dan arah kegiatan yang dilakukan.
Dalam proses pendidikan harus disadari bahwa peserta didik bukan manusia dewasa dalam bentuk jasmani kecil,akan tetapi peserta didik memang manusia yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan potesi yang dimiliki. Kemampuan berpikir,merasa,menganalisa,mengmukakan pendapat,berbahasa,sosial memang masih belum berkembang,masih memerlukan bantuan dari luar dirinya untuk mewujudkannya. Karena itu pendidikan harus dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat aktif dan kreatif,jangan menggurui dalam suasana kaku. Peserta didik harus merasakan suasana yang menyenangkan yang dilandasi rasa kasih sayang dan penuh dengan tantangan atau motivasi sehingga peserta didik dapat mengembangkan segala potensi dan bakat yang dimiliki. Disamping itu,perlu disadari dalam pelaksanaan proses pendidikan bahwa masing-masing peserta didik memiliki pribadi-pribadi yang membedakan dirinya satu dengan yang lainnya,tidak ada dua individu yamg sama.
Pembinaan yang dilakukan terhadap peserta didik dalam pendidikan harus memperhatikan masing-masing individu peserta didik. Memperhatiakan perbedaan masing-masing individu peserta didik,tidak ada dua yang sama,maka seyogianya pendidikan sebaliknya dilakukan secara individual,akan tetapi hal ini sangat sulit dilakukan dengan pertimbangan beberapa hal. Karena itu dalam praktek pelaksanaan pendidikan sebaiknya disadari setiap pelaksana pendidikan sebagai berikut :
  1. Subyek didik atau peserta didik memiliki potensi dan kebutuhan,baik fisik maupun psikologis yang berbeda-beda sehingga masing-masing subyek didik merupakan manusia yang unik.
  2. Subyek didik memerlukan pembinaan individual serta perlakuan yang manusiawi.
  3. Subyek didik pada dasarnya merupakan insan yang aktif menghadapi lingkungan hidupnya.
  4. Subyek didik bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri sesuai dengan wawasan belajar sepanjang hayat seperti yang sering kita dengar “tuututlah ilmu dari buaian sampai keliang lahat” maksudnya tuntutlah ilmu itu dari kamu dilahirkan sampai akhir hidup mu.
Oleh : Ilaya Aufa Lubis, Nurmeiliani Siregar, Rahma Safitri (Kel IV)

HAKEKAT PEMBELAJARAN

Apa itu belajar ?
Kalau mendengar kata belajar, pasti kita akan membayangkan buku, sekolah, guru, dan siswa. Tapi tahukah kamu, pada dasarnya kegiatan belajar mengajar tidak hanya terjadi di sekolah dan melalui proses belajar mengajar seperti layaknya seorang guru dan siswa. Belajar itu adalah salah satu proses yang terjadi pada kehidupan manusia, baik itu sedikit atau banyak, sengaja atau tidak sengaja, proses belajar selalu terjadi pada manusia. Belajar dapat dilakukan di semua tempat dan dilakukan kapan pun kok. Selain itu, yang dipelajaripun dapat mencakup semua aspek kehidupan, baik manusia sebagai mahluk individual, sosial, di bidang industri, bidang klinis, bidang sosial dll. Jadi, dengan kata lain belajar dapat dilihat dari perilaku manusia. Tetapi perlu diketahui juga tidak semua perubahan perilaku pada manusia itu merupakan hasil belajar. Misalnya, seorang balita yang tidak bisa berdiri menjadi dapat bediri, hal ini disebut juga dengan hasil dari kematangan.

Nah, selanjutnya apa itu mengajar ?
Mengajar mempunyai dua arti, yaitu:
  1. Menyampaikan pengetahuan kepada siswa.
  2. Membimbing siswa.
Mengajar di sini adalah usaha dari pihak guru untuk mengatur lingkungan, sehingga terbentuk suasana belajar mengajar yang baik. Artinya yang belajar adalah anak itu sendiri dan berkat kegiatannya sendiri, sedangkan guru hanya dapat membimbing anak. Dalam membimbing tersebut guru tidak hanya menggunakan buku pelajaran semata, tetapi juga memanfaatkan segala faktor dalam lingkungan, termasuk dirinya, alat peraga, lingkungan, dan sumber-sumber lain.

Lalu, apa-apa saja ciri-ciri pembelajaran itu ?
Ciri-ciri Pembelajaran itu terdiri dari :
  1. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.
  2. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.
  3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa.
  4. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.
  5. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa.
  6. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun psikologis.

Apa tujuan dari pembelajaran itu ?

Tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional merupakan tujuan yang akan dicapai setelah pembelajaran selesai dilakukan.
Tujuan instruksional ini ada dua, yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
Kalau tujuan instruksional umum (TIU) telah tersedia di dalam kurikulum, sedangkan tujuan instruksional khusus (TIK) merupakan hasil perencanaan dan perumusan guru, dimana merupakan penjabaran dari tujuan instruksional umum.
TIU menggunakan kata kerja yang bersifat umum dan memuat lebih dari satu pengertian, misalnya mengenal, mengerti, memahami, sehingga sulit diukur keberhasilannya atau dievaluasi. Sedangkan TIK menggunakan kata kerja yang bersifat operasional, dapat dikerjakan, yang memuat hanya satu pengertian, sehingga mudah diukur keberhasilannya atau dievaluasi.

Nb : Tujuan instruksional ini sebenarnya merupakan tujuan yang dijabarkan dari tujuan kurikuler.

Hasil belajar dapat tercermin melalui dampak pengajaran dan dampak pengiring, apabila dalam pembelajaran memperhatikan ketiga ranah tujuan pembelajaran, yaitu ranah kognitif, afektif, psikomotorik. Ketiga ranah tersebut harus tercermin dalam tujuan instruksional khusus (TIK) atau tujuan pembelajaran khusus (TPK).
Ranah kognitif yang terdiri dari:
  1. Pengetahuan, mencakup kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan.
  2. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
  3. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. 
  4. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. 
  5. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.
  6. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.

Ranah afektif yang terdiri dari:
  1. Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut.
  2. Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
  3. Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup menerima suatu nilai, menghargai, mengakui, dan menentukan sikap.
  4. Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk suatu system nilai sebagai pedoman  dan pegangan hidup.
  5. Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.


Ranah psikomotorik yang terdiri dari:
  1. Persepsi, yang mencakup kemampuan membedakan hal-hal secara khas, dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut.
  2. Kesiapan, yang mencakup kemampuan penempatan diri dalam keadaan dimana akan terjadi suatu gherakan atau rangkaian gerakan.
  3. Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh atau gerakan peniruan.erakan yang terbiasa, mencakup kemampuan melakukan gerakan-gerakan tanpa contoh.
  4. Gerakan kompleks, yang mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap, secara lancer, efisien, dan tepat.
  5. Penyesuaian pola gerakan, yang mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku. 
  6. Kreativitas, mencakup kemampuan melahirkan pola gerak-gerik yang baru atas dasar prakarsa sendiri.

Apa-apa saja unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran ?
Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran, artinya unsur-unsur yang diperlukan dalam belajar yang keadaannya dapat berubah-ubah, juga terdapat pada diri guru (motivasi dan kesiapan mengajar siswa), dan pada upaya guru menyiapkan bahan pembelajaran, alat bantu pembelajaran, suasana pembelajaran, dan kondisi atau kesiapan siswa mengikuti pembelajaran baik fisik maupun psikologis. Unsur-unsur ini kadang-kadang baik, dan pada suatu ketika dapat menurun atau hilang atau dapat mendukung (berpengaruh positif) atau sebaliknya menjadi penghambat (berpengaruh negatif).
Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapatdibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a.      Faktor internal.
Faktor ini merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Faktor internal terdiri dari faktor biologis dan faktor psikologis.
  •          Faktor biologis (jasmaniah)
Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik atau jasmani individu yang bersangkutan, yaitu kondisi fisik yang normal dan kondisi kesehatan fisik
  •           Faktor psikologis (rohaniah)
Faktor psikologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan kondisi mental seseorang, yaitu kondisi mental yang mantap dan stabil diman akondisi ini tampak dalam bentuk sikap mental yang positif dalam menghadapi segala hal, terutama hal-hal yang berkaitan dalam proses belajar. Selain berkaitan erat dengan sikap mental yang positif, faktor psikologis ini meliputi intelegensi/tingkat kecerdasan, kemauan/minat,bakat, daya ingat dan daya konsentrasi.

b.      Faktor eksternal
Faktor eksternal belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor lingkungan pembelajar dan sistem instruksional. Lingkungan belajar dapat dibedakan menjadi lingkungan dalam sekolah dan  dan lingkungan luar sekolah. Sedangkan sistem instruksional antara lain kurikulum, bahan ajar, metode, media, dan evaluasi. Penjelasannya sama dengan faktor dinamis belajar di atas.

Apa-apa saja media yang digunakan dalam pembelajaran ?
Media disebut juga alat-alat audio visual, artinya alat yang dapat dilihat dan didengar yang dipakai dalam proses pembelajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan efisien. Dengan penggunaan alat-alat ini guru dan siswa dapat berkomunikasi lebih mantap dan hidup serta interaksinya bersifat banyak arah. Media mengandung pesan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraihtujuan-tujuan belajar. Apapun yang disampaikan oleh guru sebaiknya menggunakan media, paling tidak yang digunakannnya adalah media verbal yang berupa kata-kata yang diucapkan di hadapan siswa.
Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses belajar mengajar dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Media pembelajaran juga dapatmembantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan dengan menarik danterpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.
Dampak positif dari penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku.
  2. Pengajaran bisa lebih menarik.
  3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpanbalik dan penguatan.
  4. Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat
  5. Kualitas hasil pelajaran dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambarsebagai media pengajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik, spesifik dan jelas.
  6. Pengajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pengajaran dirancang untuk penggunaan secara individu.
  7. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
  8. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif; beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar.
Jadi dari apa yang telah dijelaskan diatas, dapatlah diambil kesimpulan tentang hakekat pembelajaran ;
  1. Bahwa peristiwa belajar-mengajar terjadi kalau subyek didik (siswa) secara aktif berinteraksi dengan lingkungan yang telah diatur oleh guru. Didalam interaksi belajar-mengajar ini setiap siswa diperlakukan selayaknya manusia yang bermartabat yang minat dan potensinya perlu diwujudkan secara optimal
  2. Proses belajar-mengajar yang efektif memerlukan strategi dan media/teknologi pendidikan yang tepat.
  3. Program belajar-mengajar dirancang dilaksanakan sebagai suatu sistem
  4. Proses dan produk belajar perlu memperoleh perhatian yang seimbang didalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar.
  5. Pembentukan kemampuan professional keguruan perlu menggabungkan secara fungsionil antara teori dan praktek serta materi dan metodologi penyampaiannya.
  6. Pembentukan kemampuan professional keguruan memerlukan pengalaman lapangan yang bertahap secara teratur, mulai dari pengenalan medan (lingkungan), latihan keterampilan terbatas, sampai dengan pelaksanaan dan penghayatan tugas-tugas kependidikan secara utuh dan aktual.
  7. Tanda keberhasilan yang utama dalam pendidikan professional adalah penguasaan kemampuan melalui unjuk kerja.
  8. Materi pengajaran dan sistem penyampaiannya selalu berkembang.
Oleh : Indah Cahya Sagala, Ratih Pramita Silalahi, Susi Erni Yanti, Ramadhani Ritonga (Kel VI)
 

ASAS PENDIDIKAN

Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak dari sejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat  masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan untuk mnjemput masa depan.
Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Upaya pengembangan potensi atau bakat yang dimiliki para siswa dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan sesuai dengan perkembangannya. 

1.      Asas pendidikan sepanjang hayat (life long education)
Pertumbuhan dan perkembangan individu pada dasarnya berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan. Penerapan dan pengembangan asas pendidikan sepanjang hayat, sesuai dengan perkembangan alamiah yang terjadi pada tiap diri individu. Manusia mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang tidak pernah berhenti, karena manusia selalu menghadapi situasi dan kondisi yang berbeda sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Manusia tidak pernah berhenti mengembangkan dirinya menuju kedewasaan dalam arti luas.
Pendidikan sepanjang hayat bukan hanya berlaku untuk peserta didik dan orang awam, melainkan juga berlaku bagi guru sebagai pendidik, orang tua, tokoh atau pemuka dalam masyarakat. Jika kita telah menerapkan dan menjadikan asas pendidikan sepanjang hayat dalam kehidupan kita, maka segala fenomena yang terjadi dan kita alami menjadi masukan pendidikan bagi kita yang memberdayakan diri masing-masing menjadi manusia yang berkualitasdalam arti yang luas. Selama hayat masih dikandung badan, manusia akan tetap berhadapan dengan fenomena-fenomena yang dapat dijadikan sebagai pelajaran dalam menjalani kehidupan. Pendidikan sepanjang hayat hakikatnya meliputi belajar sepanjang hayat.


2.      Asas Kasih Sayang
Manusia sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, diciptakan denagn kasih, dan agar hidup dilandasi oleh kasih, maka kasih sayang harus menjadi bagian pada diri semua orang. Kasih sayang merupakan kodrat Tuhan yang diberikan kepada manusia, oleh karena itu pelaksanaan proses pendidikan harus menerapkan asas kasih sayang. Dalam proses pelaksanaan pendidikan di sekolah, terjadi interaksi diantara semua anggota masyarakat di sekolah. Interaksi tersebut harus dibangun dengan asas kasih sayang yang terarah pada pembentukan kepribadian, dengan menanamkan nilai-nilai yang bermakna dalam kehidupan. Kasih sayang, hakikatnya mengabdi atau berkorban demi kebahagiaan orang lain, seseorang bukan lagi berpikir dan berbuat hanya untuk dirinya sendiri akan tetapi sebahagian dari hidupnya adalah untuk orang lain. Interaksi yang terjadi dalam proses pendidikan harus didasarkan pada beberapa hal berikut ini;
a.       Kelemah lembutan
b.      Kemurahan hati
c.       Kesabaran
d.      Kesederhanaan
e.       Ketulusan
f.        Kejujuran
Interaksi yang didasarkan pada asas tersebut untuk menjalankan proses pendidikan, maka hal inilah yang dapat disebut dengan interaksi edukatif. Suasana dan hubungan interaksi educatif antara pendidik dengan peserta didik terjalin antara kasih sayang (Nursid Sumaatmadja. 2002: 60). Asas kasih sayang memiliki makna yang sangat berarti dalam proses kegiatan pendidikan yang dilandasi oleh tanggung jawab dalam menciptakan serta membina sumber daya manusia yang berperilaku penuh dengan kasih sayang.

3.      Asas Demokrasi
Pada awalnya konsep istilah demokrasi digunakan dalam pemerintahan atau politik, namun pada saat ini istilah demokrasi tidak hanya sebatas dalam bidang itu saja, namun juga menyangkut hal-hal dibidang sosial, ekonomi, hukum, dan HAM. Demokrasi merupakan suatu sikap dan cara hidup baik di dalam lingkungan terbatas maupun dalam lingkungan bernegara. (H.A.R. Tilaar. 2002; 28). Pada dasarnya hakikat demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewajiban sebagai umat manusia serta upaya bersama untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Berdasarkan makna diatas, asas demokrasi yang dikembangkan dan diterapkan dalam proses kegiatan pendidikan, mengacu pada kesetaraan antara subjeksebagai sesama manusia dalam suasana interaksi edukatif, sesuai dengan posisi dan tugas masing-masing. demokrasi pendidikan merupakan pandangan hidup yang mengutarakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama di dalam berlangsungnya proses pendidikan antara pendidik dan anak didik, serta juga dengan pengelola pendidikan.
Demokrasi pendidikan dalam pengertian yang luas mengandung tiga hal yaitu :
1.      Rasa hormat terhadap harkat sesama manusia.
Demokrasi pada prinsip ini dianggap sebagai pilar pertama untuk menjamin persaudaraan hak manusia dengan tidak memandang jenis kelamin, umur, warna kulit, agama dan bangsa. Dalam pendidikan, nilai-nilai inilah yang ditanamkan dengan memandang perbedaan antara satu dengan yang lainnya baik hubungan antara sesama peserta didik atau hubungan dengan gurunya yang saling menghargai dan menghormati.
2.      Setiap manusia memiliki perubahan ke arah pikiran yang sehat.
Dari prinsip inilah timbul pandangan bahwa manusia itu harus dididik, karena dengan pendidikan itu manusia akan berubah dan berkembang ke arah yang lebih sehat, baik dan sempurna. Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kemampuan anak didik untuk berpikir dan memecahkan persoalan-persoalannya sendiri secara teratur, sistematis dan komprehensif serta kritis sehingga anak didik memiliki wawasan, kemampuan dan kesempatan yang luas.
3.      Rela berbakti untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama.
Dalam konteks ini, pengertian demokrasi tidaklah dibatasi oleh kepentingan individu-individu lain. Dengan kata lain, seseorang menjadi bebas karena orang lain menghormati kepentingannya. Oleh sebab itu, tidak ada seseorang yang karena kebebasannya berbuat sesuka hatinya sehingga merusak kebebasan orang lain atau kebebasannya sendiri.
Dalam setiap pelaksanaan pendidikan selalu terkait dengan masalah-masalah antara lain :
a.       Hak asasi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan
b.      Kesempatan yang sama bagi warga negara untuk memperoleh pendidikan
c.       Hak dan kesempatan atas dasar kemampuan mereka
Didalam demokrasi pendidikan, terdapat prinsip-prinsip pendidikan yang mengandung ide dan nilai demokrasi pendidikan dan hal itu sangat banyak dipengaruhi oleh alam pikiran, sifat dan jenis masyarakat dimana mereka berada, karena dalam realitasnya bahwa pengembangan demokrasi pendidikan itu akan banyak dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan dan penghidupan masyarakat. Misalnya masyarakat agraris akan berbeda dengan masyarakat metropolitan dan modern, dan sebagainya.
Apabila yang dikemukakan tersebut dikaitkan dengan prinsip-prinsip demokrasi pendidikan yang telah diungkapkan, tampaknya ada beberapa butir penting yang harus diketahui dan diperhatikan,diantaranya :
  1. Keadilan dalam pemerataan kesempata belajar bagi semua warga negara dengan cara adanya pembuktian kesetiaan dan konsisten pada sistem politik yang ada;
  2. Dalam upaya pembentukan karakter bangsa sebagai bangsa yang baik;
  3. Memiliki suatu ikatan yang erat dengan cita-cita nasional.
Sedangkan pengembangan demokrasi pendidikan yang berorientasi pada cita-cita dan nilai demokrasi, akan selalu memperhatikan prinsip-prinsip berikut ini :
  1. Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan nilai-nilai luhurnya
  2. Wajib menghormati dan melindungi hak asasi manusia yang bermartabat dan berbudi pekerti luhur
  3. Mengusahakan suatu pemenuhan hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran nasional dengan memanfaatkan kemampuan pribadinya, dalam rangka mengembangkan kreasinya ke arah perkembangan dan kemajuan iptek tanpa merugikan pihak lain.
Perlakuan demokratis dari pendidik terhadap peserta didik, menjadi acuan dalam rangka membentuk serta mengembangkan peserta didik sebagai sumber daya manusia yang bersikap demokratis.

4.      Asas Keterbukaan dan Transparansi
Keterbukaan sebagai fenomenayang berkenaan dengan perilaku manusia yang terkait dengan hati nurani, kebijakan, dan suatu keputusan (Nursid Sumaatmadja. 2002; 63). Keterbukaan mengandung makna bahwa apa yang dilakukan dan apa yang ada dalam diri seseorang dapat dan harus dikethui oleh orang lain, tidak ada yang tersembunyi atau dirahasiakan.
Dalam pratek pelaksanaan pendidikan terutama pendidikan formal, keterbukaan menyangkut masalah kebijakan dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pendidik terhadap para peserta didiknya. Misalnya dalam masalah pemberian nilai hasil belajar yang dicapai para siswanya adalah merupakan bagian dari kebijakan. Maka dalam penetapan pemberian nilai tersebut harus ada keterbukaan tentang posedur yang digunakan oleh guru dalam menetapkan nilai dimaksud sehingga para siswa benar-benar dapat termotivasi untuk meningkatkan usaha dan kreatifitasnya dalam belajar. Jika dunia pendidikan tidak menerapkan asas keterbukaan dan transparansi maka dapat terjadi hal-hal yang mencurigakan dan dapat terjadi kecurangan... nah hal ini lah yamh harus dihindari dalam dunia pendidikan.
Transparansi atau transparan dapat diartikan dengan bening, walupun ada yang menghalangi atau membatasi namun tetap terlihat dengan jelas. Keterbukaan dan transparansi sering disatukan dalam penggunaannya karena makna yang terkandung adalah kejujuran.
Pengembangan dan penerapan asas keterbukaan dan transparansi dalam proses pelaksanaan pendidikan, berarti bahwa program, kebijakan, dukungan, dan perangkat-perangkat lainnya harus didasari oleh kejujuran, tidak ada yang ditutup-tutupi, serta tidak ada kebohongan. Melalui pendidikan yang berasaskan keterbukaan dan transparansi diharapkan akan tercipta sumber daya manusia yang jujur, tulus, dan berdedikasi tinggi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat-bangsa dan negara Indonesia di masa yang akan datang kelak.

5.      Asas Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah kewajiban terhadap segala sesuatunya; fungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikap tindak sendiri atau pihak lain. Tanggung jawab sangat berkaitan dengan kewajiban seseorang terhadap tugas atau perbuatan yang dilakukan. Sesuatu aktivitas atau perbuatan yang dilakukan tanpa adanya tanggung jawab akan terjadi secara tidak terarah dan cenderung asal-asalan saja dan bahkan dapat menimbulkan masalah yang lain lagi.
Kegiatan dalam proses pendidikan haruslah selalu didasarkan pada asas tanggung jawab, karena kegiatan apapun yang dilakukan dalam pendidikan selalu diarahkan untuk mencapai tujuan yakni membimbing dan mendidik para siswa agar dapt tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki.
Aktualisasi dari pengembangan dan penerapan asas tanggung jawab dalam proses pelaksanaan kegiatan pendidikan akan tercermin dalam pemilihan dan penetapan materi, metode, strategi, pelaksanaan, hubungan antara guru dengan siswa, sampai pada evaluasi, harus berfokus pada pencapaian tujuan pendidikan dan pembelajaran itu.

6.      Asas kualitas
Asas kualitas berkaitan dengan mutu hasil pendidikan yang akan dicapai. Kualitas hasil akan bergantung pada kualitas dalam seluruh proses pelaksanaan pembelajaran itu sendiri. Dengan demikian asas kualitas dapat dikatakan sebagai muara dari asas-asas pendidikan sepanjang hayat, kasih sayang, demokrasi, keterbukaan dan transparansi serta tanggung jawab.
Proses kegiatan pendidikan yang bertujuan untuk mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, haruslah berdasarkan pada asas kualitas. Kegiatan pendidikan yang berlandaskan asas kualitas akan melahirka siswa-siswa yang menjadi manusia yang berkualitas menyangnkut jasmani, keterampilan, etos kerja, intelektual, emosional, spiritual serta segala aspek dalam hidupnya dan masyarakat.

7.      Panca Darma Taman Siswa
Ki Hajar Dewantara menerapkan lima asas yang disebut panca darma taman siswa pada perguruan yang beliau dirikan yaitu perguruan Taman Siswa.
1.      Asas Kodrat Alam
Asas ini berkaitan dengan hakikat dan kedudukan manusia sebagai makhluk hidup di dunia, agar senantiasa mengatur dan menempatkan diri dalam hubungannya yang harmonis dengan alam dan lingkungan sekitar. Keharmonisan hubungan tersebut akan mendukung tercapainya kesejahteraan. Sebaliknya, jika terjadi pertentangan, maka akan mengarah kepada kehancuran harkat manusia. Kesadaran manusia akan hakikat dan dan kedudukannya di dunia ini, niscaya akan memperkokoh pijakan bagi dirinya dalam berbuat positif demi masa depannya. Sebaliknya, kekeliruan dalam menghadapi dunia ini, akan berujung kepada kesesatan atau kekeliruan yang bersangkutan dalam usaha memperoleh keberhasilan hidup.
2.      Asas Kemerdekaan
Inti dari pandangan ini adalah bahwa manusia dilahirkan ke dunia dalam keadaan bebas merdeka, dalam arti memiliki hak asasi yang bersifat asli untuk hidup dan menyelenggarakan kehidupannya. Tak seorangpun bisa memaksakan kehendak atau kekuasaanya terhadap orang lain, yang berarti menodai kebebasan individu manusia di muka bumi ini. Padahal, kebebasan dan kemerdekaan itu merupakan anugerah dari Tuhan, sehingga tidaklah pantas bila ada pihak tertentu yang ingin mencabutnya.
Asas kemerdekaan tersebut, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dan jangan sampai disalahgunakan semaunya. Dengan asas ini, maka tiap-tiap individu didorong untuk memiliki sikap disiplin dan budi luhur. Dengan adanya sikap-sikap tersebut, maka akan tercipta keteraturan, kesungguhan, dan pantang menyerah dalam menghadapi hidup. Kedisiplinan, pada akhirnya akan menjadi salah satu pilar pendukung kemajuan hidup manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat.
3.      Asas Kebudayaan
Salah satu cirri dari kemajuan individu atau masyarakat dapat dilihat dari corak dan mutu kebudayaan yang berhasil diciptakan dan sekaligus merupakan bagian integral dari realitas kehidupan individu atau masyarakat tertentu. Oleh karena itu, bagi suatu bangsa, sangat penting sekali adanya usaha memelihara dan mengembangkan budidaya individu dan masyarakatnya. Dengan demikian, menjadi salah satu pembentuk identitas bangsa sekaligus pembeda dengan bangsa lain. Kebudayaan suatu bangsa juga merupakan cermin kemajuan dan keberhasilan bangsa itu sendiri.
Menurut Ki Hajar, pelestarian dan pengembangan kebudayaan suatu bangsa tidak berarti hanya memelihara dan melindunginya dari pengaruh luar. Tetapi yang lebih penting adalah, membawa budaya tersebut ke suatu tingkat yang lebih tinggi sesuai dengan tuntutan dan realitas perubahan zaman. Dengan demikian, asas kebudayaan dan pengembangannya ini lebih bersifat dinamis, dan bukan suatu pertahanan yang statis sifatnya. Kebudayaan yang selayaknya dikembangkan dan dipelihara, menurut beliau, mencakup segala hal yang berkaitan dengan kepentingan hidup bangsa itu sendiri, lahir maupun batin.
4.      Asas Kebangsaan
Sudah sedemikian lazimnya bahwa setiap bangsa di dunia ini mencintai dan memegang teguh ikatan kenegaraan dan kebangsaannya. Hal yang demikian ini bukanlah buruk, karena di sana terkandung realitas dan makna persatuan sebagai modal keberhasilan perjuangan bangsa. Tanpa adanya kebanggaan akan identitas kebangsaan, jelas tidak mungkin dicapai keberhasilan dan persatuan, bahkan sebaliknya bisa mengarah kepada pertikaian antar kelompok tertentu atau malah kehancuran bangsa itu sendiri.
Akan tetapi, jangan sampai cinta kebangsaan bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Asas kebangsaan harus menampilkan bentuk perbuatan yang nyata, jangan sampai mengarah kepada permusuhan terhadap bangsa lain. Pada lingkup bangsa sendiri, asas tersebut antara lain mendorong rasa persatuan antar kelompok yang ada, juga persatuan dalam kehendak maupun cita-cita untuk mencapai kebahagiaan hidup lahir batin bagi seluruh komponen bangsa.
5.      Asas Kemanusiaan
Seluruh dharma, usaha atau pengabdian manusia di tengah perjalanan hidup ini, pada hakikatnya adalah untuk kepentingan harkat dan martabat kemanusiaan. Sebagai layaknya manusia baik secara individual maupun sosial, ia akan berupaya sekuat tenaga agar hajat dan kebutuhan hidup manusiawinya terpenuhi secukupnya. Selama kebutuhan manusiawi tersebut belum terpenuhi, maka perjuangan akan terus berlangsung. Padahal, kebutuhan manusiawi jenis dan ragamnya banyak sekali, termasuk di dalamnya pemenuhan harkat kemanusiaan.
Menurut Ki Hajar, asas kemanusiaan harus ditegakkan di atas prinsip kesucian hati dan rasa cinta kasih terhadap sesama manusia, dan di lebih dari itu juga kepada seluruh makhluk Tuhan. Atas dasar itulah, maka jangan sampai ada pihak yang mengatasnamakan kemanusiaan tetapi dilakukan dengan cara-cara yang menyakiti, bahkan menghancurkan hak hidup manusia lain. Prinsip ini sedemikian penting sehingga tidak dapat terpisahkan dari kemanusiaan itu sendiri.

Oleh : Hamzah Isfahani, Kori Amrullah, Mhd. Reza Pratama, Riko Rizky Marpaung (Kel VIII)

Thursday, October 20, 2011

UNIMED